________________________________
aanirrohiim.Alk hamdulillah,
wash sholaatu was salaamu 'ala Rasuulillah wa 'ala aalihi washohbihi
ajma'iin. Kami berniat ngaji karena Engkau ya Allah, berilah kami ilmu
yang bermanfaat dan barokah. Aamiin, ya Mujiibassaa-ili in.
_______________
Bismillahirrohm
_______________
(Masih edisi mengamalkan ilmu, agar ilmu tidak hanya masuk dari telinga
ke kepala, kemudian keluar lagi melalui mulut, Tetapi dari kepala ilmu
masuk ke dalam hati, dan keluar melalui anggauta badan dalam kehidupan
sehari-hari)
Pagi itu, sebelum berangkat ngaji (rutin setiap Ahad
pagi mulai jam 7.00 wib – jam 8.00 wib) di Bakulan, saya sengaja
BERWUDHU terlebih dahulu untuk memohon kepada Allah Ta'ala agar
diberikan keselamatan. Karena, sesuai jadwal yang tertulis di buku, hari
itu (Ahad, jam 9.00 wib) saya harus ngisi pengajian dalam rangka
memperingati mauled Nabi Saw. di Masjid Al Muttaqin, di Ds. Sidowayah,
Kal. Hargowilis, Kec. Kokap, Kab. Kulonprogo (kira-kira 60 km.) sehingga
saya butuh ngebut untuk mengejar waktu dengan Yamaha RX King yang sudah
mruput tadi, saya cek segala sesuatunya, termasuk rem dan bannya. Aman.
Normal.
Tidak seperti biasanya, di majlis ngaji rutin di
Bakulan, saya juga memasukkan uang ke kotak INFAQ untuk anak yatim
Rp.20.000,- dengan tujuan juga untuk memohon kepada Allah Ta'ala agar
perjalanan saya selamat sampai tujuan.
Jam 8.00 wib,
pengajian rutin di Bakulan saya tutup. Tanpa jeda, saya langsung naik
sepeda motor mboncengke kang Shodiq, santri yang saya ajak untuk
menemani saya. "Bismillahirroh maanirrokhiim.
Ya Allah, kula nyuwun Panjenengan paring slamet anggen kula lelungan
punika, lancar dumugi tujuan. Laa khaula walaa quwwata illaa billah".
Ngoookk…Ngooooo oooooook…Ngoooo oooooooooookk…. .Saya tancap gas. Meluncur ke lokasi pengajian.
Kira-kira 1 km. setelah menyeberangi jembatan Kali Progo, di sebuah tikungan ke kanan, tiba-tiba ….. Doorrrrr !!!!!!…..Sweett !!!!!…Sweettt !!!!…Sweett !!!!......Jlakk k
!!!. Motor saya terbanting ke kiri jalan menabrak salah satu
cagak-cagak pembatas pinggir jalan. Stang kiri nyampluk janggut saya,
kemudian jlegg!!!....sta ng
itu menancap di dada saya. Beruntung dada saya tidak jebol, dan hanya
legok saja. Darah bercucuran dari janggut saya yang sobek. Dengkul dan
tangan saya yang lecet-lecet, darahnya merembes menebus baju saya,
terasa sangat perih. Ternyata ban belakang motor saya, pecah mendadak !
Usai ban sepeda motor yang pecah diganti, dan kerusakan-kerus akan
dibetulkan, walaupun masih agak ndredek dan gemetaran, saya dan kang
Shodiq melanjutkan perjalanan (meski saya tak yakin acaranya sudah bubar
apa belum, karena telah tertunda selama membetulkan sepeda motor saya)
bagi saya, yang penting adalah memenuhi tanggung jawab saya kepada
panitia.
Akhirnya setelah melewati entah berapa banyak tikungan-tikung an yang sangat tajam, dan setelah melintasi entah berapa banyak tanjakan-tanjak an dan turunan-turunan yang tinggi-tinggi dan curam-curam, dan setelah entah berapa banyak kami bertanya-tanya,
dan setelah naik kira 2 km. dari waduk yang bernama Sermo, sampailah
kami di lokasi pengajian (Masjid Al Muttaqin, Sidowayah, Hargowilis,
Kokap, Kulonprogo).
Keadaan sudah sangat sepi. Semula saya pikir,
pengajian telah selesai, dan saya sudah sangat terlambat (karena saya
sampai di situ memang sudah jam 11. 15 wib). Tapi setelah saya amati
dengan seksama, saya sama sekali tidak menemukan bekas-bekas adanya
acara pengajian di masjid itu. Dan setelah saya tanyakan kepada orang
yang melintas di depan masjid (yang kebetulan dia salah satu dari
anggota takmir di masjid itu), TERNYATA HARI ITU MEMANG TIDAK ADA ACARA
PENGAJIAN DI MASJID ITU. Bukan karena istri saya salah menulis hari dan
tanggal, juga bukan karena saya salah mencari alamat, tetapi memang ADA
ORANG YANG MENIPU SAYA.
Beruntunglah bahwa saya sudah
mendapatkan ilmu dari almarhum ayah saya dan juga dari kitab-kitab yang
saya baca, bahwa TIDAK ADA APAPUN YANG TERJADI DI DUNIA INI KECUALI ATAS
KEHENDAK ALLAH. DAN KEHENDAK ALLAH ADALAH YANG TERBAIK UNTUK HAMBA-NYA.
Itulah sebabnya, saya bisa tidak marah dan memaafkan orang yang menipu
saya itu, karena saya faham bahwa kejadian itu bisa menimpa saya, hanya
atas kehendak-Nya, dan saya yakin bahwa kehendak-Nya adalah yang terbaik
untuk saya. Apalagi saya sudah berusaha secara lahir dan bathin.