Friday, November 17, 2017

Mengkritisi pemahaman masyarakat tentang ngaji



___________________________________
Bismillahirrohmaanirrohiim.Alkhamdulillah, wash sholaatu was salaamu 'ala Rasuulillah wa 'ala aalihi washohbihi ajma'iin. Kami berniat ngaji karena Engkau ya Allah, berilah kami ilmu yang bermanfaat dan barokah. Aamiin, ya Mujiibassaa-iliin.
_______________
(Mengkritisi pemahaman masyarakat tentang ngaji – 1)

Seorang ibu berkata : "Saya senang anak saya sekolah di sana, sebab setiap pagi, setiap akan memulai pelajaran mesti ngaji Asma-ul khusna dulu (mungkin maksudnya 'membaca Asmaa-ul khusna).


Inilah gambaran mayoritas masyarakat awam. Mereka memahami bahwa ngaji itu baca Quran. Ngaji itu baca Arab. Apa saja asal bacaannya Arab, masyarakat tahunya itulah ngaji. Itulah sebabnya, meski masyarakat sudah (merasa) sering ngaji, bahkan rajin ngaji, tapi tetap "tidak ngerti" akan ajaran agamanya.

Mestinya mereka harus difahamkan, bahwa yang namanya ngaji itu "tholabul ilmi" (cari ilmu). Golek pengertian. Pengertian apa saja, khususnya ajaran-ajaran agamanya. Dan, untuk itu, yang harus disediakan untuk mereka adalah "majlis 'ilmu" agar mereka bisa datang, duduk, dan dengar nasehat-nasehat ajaran agamanya.

Inilah yang seharusnya dilakukan oleh para ulama/kyai/ustadz/atau siapa saja yang menginginkan masyarakat "ngerti" ajaran-ajaran agamanya. Menyediakan majlis ngaji. Menyediakan majlis ilmu. Bareng-bareng nyinau piwulang agama.

Dzikrullah, wiridan, berdoa, munajat, istighotsah, dll. yang serupa dengan itu akan sangat lebih baik jika dilakukan SENDIRIAN di waktu LARUT MALAM….syukur-syukur di 1/3 akhir malam. 

Termasuk shalat-shalat sunat, maka akan lebih baik jika dilakukan sendirian di rumah. Kecuali shalat-shalat sunat yang memang disunahkan berjama'ah.
Ihdinashshiroothol mustaqiim.

No comments:

Post a Comment